
JAKARTA - PT ATPK Resources Tbk (ATPK) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp15,26 miliar pada periode yang berakhir pada 30 September 2009. Angka ini tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) yang sebesar Rp15,58 miliar.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Direktur ATPK Socrates Rudy Sirait dalam keterbukaan informasi di BEI, Jakarta, Minggu (27/12/2009).
Yang paling mencolok dari laporan keuangan perseroan adalah beban usaha yang sangat besar, yakni sebesar Rp15,586 miliar. Sebagai perbandingan, pada periode sebelumnya, beban usaha perseroan adalah sebesar Rp18,629 miliar.
Selain itu, pendapatan perseroan mengalami penurunan menjadi Rp323 juta. Yakni jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar Rp1,145 miliar.
Pendapatan lain-lain juga mengalami penurunan, menjadi hanya Rp101 juta dari sebelumnya sebesar Rp1,036 miliar. Karena didokong oleh penurunan pendapatan bunga yang hanya sebesar Rp168 juta dari sebelumnya Rp560 juta.
Jumlah aktiva juga mengalami penurunan, yakni menjadi Rp179,67 miliar dari sebelumnya Rp190,39 miliar. Dan kas setara kas akhir tahun perseroan hanya sebesar Rp591 juta.
Sebelumnyam, ATPK mematok angka pendapatan sebesar Rp260 miliar pada 2010 mendatang, dengan penjualan batu bara sebanyak 1,23 juta mentrik ton (MT).
Dijelaskannya, dari anak usaha PT Mega Alam Sejahtera, perseroan akan memproduksi dan menjual batu bara sebanyak 990 juta MT. Sementara dari PT Sarana Mandiri Utama, perseroan hanya memproduksi 240 juta MT.
Batu bara yang diproduksi oleh dua anak usaha ATPK tersebut telah di-secure. Untuk Sarana Mandiri, kontrak jual beli telah ditandatangani dengan PT Optima Persada Energi. Sementara untuk Mega Alam, kontrak penjualan telah ditandatangi oleh PT Bara Jaya Utama.
Mega Utama memiliki tambang di Berau, Labanan, Kaltim. Sementara Sarana Mandiri, di daerah Sesayap, Bulungan, Kaltim.
Selain itu, perseroan mengungkapkan jika pada 2011 pihaknya mematok angka produksi sebanyak 2,445 juta MT dan pendapatan sebesar Rp510 miliar. Pada 2012, produksi sebanyak 5,550 juta MT dengan angka pendapatan diperkirakan Rp520 miliar. (wdi)(rhs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar